Selasa, 07 Mei 2013

ASKEB NIFAS


ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS POSTPARTUM PATOLOGI PADA NY.’’N’’DENGAN PERDARAHAN RINGAN DI PUSKESMAS SLEMAN
TANGGAL 17 JULI 2008
Nomor Register                   : 798/VII/08.
Tanggal Masuk                    :16 Juli 2008 pukul 10.20 WITA.
Tanggal Partus                     :16 Juli 2008 pukul 19.10 WITA.
Tanggal Pengkajian             :17 Juli 2008 pukul 09.00 WITA.
2.1 Identitas istri/suami
Nama                                   : Ny.’’N’’- Tn.’’M’’.
Usia                                     : 20 tahun – 25 tahun.
Nikah                                   : 1 kali – 1 kali.
Lamanya nikah                    : ±1 tahun.
Suku                                    : DepokDepok
Agama                                 : Islam – Islam.
Pendidikan                          : S1-S1
Pekerjaan                             : IRT – PNS
Alamat                                 : Jl. M. Tahir kumala II.



2.2 Data subjektif
1.      I bu mengatakan melahirkan tanggal 16 juli 2008 jam 19.10 WITA.
2.      Ibu merasakan nyeri pada perineum bila bergerak atau berjalan.
3.      Ibu mengatakan mendapat jahitan pada perineim setelah melahirkan.
4.      Ibu mengatakan badan lemah, linglung, keluar keringat dingin, kesulitan nafas, pusing, dan pandangan berkunang-kunang
5.      Ibu mengatakan ASI-nya masih sedikit tapi bayi kuat mengisap.

2.3 Data objektif
1.      Keadaan umumbadan lemah, muka pucat.
2.      Kesadaran menurun
3.      Tanda-tanda vital.
a.       Tekanan Darah           : 80/60 mmHg.
b.      Nadi                              :  80 kali/menit.   
c.       Suhu                             : 38,5 0C.
d.      Pernafasan                  : 26 kali/menit.
4.      Ekspresi wajah ibu tampak meringis,terutama saat bergerak.
5.      Inspeksi,palpasi,perkusi.
a.       Kepala     : Keadaan rambut bersih,hitam,lurus,tidak berketombe,dan tidak rontok.
b.      Muka       : Ekspresi wajah ibu meringis bila bergerak,tidak ada edema.
c.       Mata        : Sklera tidak ikterik,konjungtiva merah putih pucat.
d.      Hidung     : Tidak ada polip dan sekret.
e.       Mulut       : Tampak bersih,bibir tampak lembap,dan tidak ada karies, dan pucat.
f.       Leher       : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid,kelenjar limfe,dan fena jugularis.
g.      Payudara : Simetris kiri dan kanan,puting susu terbentuk,hiperpigmentasi pada areola mamae,dan kolostrum ada pada saat puting susu di pencet.
h.      Abdomen:Tampak linea nigra,striae livida,tidak ada luka bekas operasi,kontraksi uterus tidak baik TFU tidak teraba.
i.        Genitalia:vulva tampak bersih,tidak ada edema,tidak ada varises,jahitan perinium tampak lembap,dan tampak pengeluaran lokia rubra, adanya pengeluaran darah.
j.        Ekstremitas:Simetris kiri dan kanan,tidak ada edema dan varises,serta refleks patella (+) kiri dan kanan.
2.4 PENGKAJIAN
2 jam postpartum, P1A0, ibu dengan nyeri luka jahitan perineum, ASI masih kurang,dan keadaan bayi baik, terjadi pendarahan ringan.

2.5 TINDAKAN
1.      Mandiri
a.       Apabila pasien  kekurangan volume cairan berikan cairan parental/ isotonic, tujuan untuk mencegah disfungsional bleeding dan memperbaiki volume cairan
b.      Tidurkan pasien dengan posisi kaki lebih tinggi sedangkan badannya tetap terlentang (Dengan kaki lebih tinggi akan meningkatkan venous return dan memungkinkan darah keotak dan organ lain)
c.       Memonitor tanda vital (Untuk mengetahui adanya perubahan tanda vital terjadi bila perdarahan semakin hebat)
d.      Memonitor intake dan output setiap 5-10 menit (Perubahan output merupakan tanda adanya gangguan fungsi ginjal)
e.       Mengevaluasi kandung kencing (Apabila kandung kencing yang penuh akan menghalangi kontraksi uterus)
f.       Mencatat perubahan warna kuku, mukosa bibir, gusi dan lidah, suhu kulit (Dengan vasokontriksi dan hubungan keorgan vital, sirkulasi di jaingan perifer berkurang sehingga menimbulkan cyanosis dan suhu kulit yang dingin)
g.      Mengkaji ada / tidak adanya produksi ASI (Perfusi yang jelek menghambat produksi prolaktin dimana diperlukan dalam produksi ASI)
h.      Melakukan masage uterus dengan satu tangan serta tangan lainnya diletakan diatas simpisis. (Massage uterus merangsang kontraksi uterus dan membantu pelepasan placenta, satu tangan diatas simpisis mencegah terjadinya inversio uteri)
i.        Membatasi pemeriksaan vagina dan rectum (Trauma yang terjadi pada daerah vagina serta rektum meningkatkan terjadinya perdarahan yang lebih hebat, bila terjadi laserasi pada serviks / perineum atau terdapat hematom)

2.      Kolaborasi
Tindakan kolaborasi dilakukan jika pasien mengalami tekanan darah semakin turun, denyut nadi makin lemah, kecil dan cepat, pasien merasa mengantuk, perdarahan semakin hebat. Tindakan kolaborasi bias dilakukan dengan sesame bidan, perawat dan dokter genekologi.
a.       Berikan infus atau cairan intravena (Cairan intravena dapat meningkatkan volume intravaskular )
b.      Berikan uterotonika pada perdarahan karena atonia uteri (Uterotonika merangsang kontraksi uterus dan mengontrol perdarahan)
c.       Berikan antibiotic (Antibiotik mencegah infeksi yang mungkin terjadi karena perdarahan )
d.      Berikan transfusi whole blood ( bila perlu )
Whole blood membantu menormalkan volume cairan tubuh.
e.        Monitor kadar gas darah dan PH ( perubahan kadar gas darah dan PH merupakan tanda hipoksia jaringan )
f.        Berikan terapi oksigen ( Oksigen diperlukan untuk memaksimalkan transportasi sirkulasi jaringan ).

3.      Rujukan
Tindakan rujukan dilakukan apabila pasien mengalami cemas ketakutan berhubungan dengan perubahan keadaan atau ancaman kematian
Tujuan : Klien dapat mengungkapkan secara verbal rasa cemasnya dan mengatakan perasaan cemas berkurang atau hilang.
Rencana tindakan :
1.       Kaji respon psikologis klien terhadap perdarahan paska persalinan (Persepsi klien mempengaruhi intensitas cemasnya)
2.      Kaji respon fisiologis klien ( takikardia, takipnea, gemetar )
 Perubahan tanda vital menimbulkan perubahan pada respon fisiolog
3.      Perlakukan pasien secara kalem, empati, serta sikap mendukung (Memberikan dukungan emosi)
4.      Berikan informasi tentang perawatan dan pengobatan, serta akan dilakukan rujukan agar ibu dalam keadaan selamat kepada keluarga. ( Informasi yang akurat dapat mengurangi cemas dan takut yang tidak diketahui oleh keluarga)
5.      Meminta persetujuan pada keluarga
6.      Melakukan rujukan kerumah bersalin dengan pasilitas lengkap yang mendukung keselamatan pasien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar