Minggu, 05 Mei 2013

MAKALAH ATRESIA ANI



atresia ani

2.1  Pengertian
Istilah atresia ani memiliki beberapa defenisi dari para ahli, Yaitu :
a.       Istilah atresia ani berasal dari bahasa Yunani yaitu “ a “ yang artinya  tidak ada dan trepsis yang berarti makanan dan nutrisi. Dalam istilah  kedokteran, atresia ani adalah suatu keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang yang normal.
b.      Atresia ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus imperforata meliputi anus, rektum, atau batas di antara keduanya (Betz, 2002).
c.        Atresia ani merupakan kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya lubang atau saluran anus (Donna, 2003).
d.      Atresia ani adalah tidak lengkapnya perkembangan embrionik pada distal anus atau tertutupnya anus secara abnormal (Suradi, 2001).
e.       Atresia ani atau anus imperforata adalah tidak terjadinya perforasi membran yang memisahkan bagian endoterm mengakibatkan pembentukan lubang anus yang tidak sempurna.  Anus tampak rata atau sedikit cekung ke dalam atau kadang berbentuk anus namun tidak berhubungan langsung dengan rektum (Purwanto, 2001).
Jadi atresia ani adalah kelainan kongenital dimana anus tidak mempunyai lubang untuk mengeluarkan feses karena terjadi gangguan pemisahan kloaka yang terjadi saat kehamilan.

2.2   Klasifikasi/Jenis
Klasifikasi atresia ani, yaitu :
a.       Anal stenosis adalah terjadinya penyempitan daerah anus sehingga feses tidak dapat keluar.
b.      Membranosus atresia adalah terdapat membran pada anus.
c.       Anal agenesis adalah memiliki anus tetapi ada daging diantara rectum dengan anus.
d.      Rectal atresia adalah tidak memiliki rektum.
e.       Anus imperforata dan ujung rektum buntu terletak pada berbagai jarak dari peritoneum.
f.        Lubang anus yang terpisah dengan ujung rektum yang buntu.

Pasien bisa diklasifikasikan lebih lanjut menjadi 3 sub kelompok anatomi, yaitu :
a.       Anomali rendah / infralevator
Rektum mempunyai jalur desenden normal melalui otot puborektalis, terdapat sfingter internal dan eksternal yang berkembang baik dengan fungsi normal dan tidak terdapat hubungan dengan saluran genitourinarius.
b.      Anomali intermediet
Rektum berada pada atau di bawah tingkat otot puborectalis, lesung anal dan sfingter eksternal berada pada posisi yang normal.
c.        Anomali tinggi / supralevator
Ujung rectum di atas otot puborectalis dan sfingter internal tidak ada. Hal ini biasanya berhubungan dengan fistula genitourinarius – retrouretral (pria) atau rectovagina (perempuan). Jarak antara ujung rectum buntu sampai kulit perineum lebih dari 1 cm.
Klasifikasi menurut letaknya :
a.       Tinggi (supralevator) : rektum berakhir di atas M. levator ani (M. puborektalis) dengan jarak antara ujung buntu rektum dengan kulit perineum lebih dari 1 cm. Letak upralevator biasanya disertai dengan fistel ke saluran kencing atau saluran genital.
b.      Intermediate : rektum terletak pada M. levator ani tetapi tidak menembusnya.
c.       Rendah : rektum berakhir di bawah M. levator ani sehingga jarak antara kulit dan ujung rektum paling jauh 1 cm.

2.3  Etiologi
Penyebab sebenarnya dari atresia ani ini belum di ketahui pasti, namun ada  sumber yang mengatakan bahwa kelainan bawaan anus di sebabkan oleh :
a.       Karena kegagalan pembentukan septum urorektal secara komplit karena gangguan pertumbuhan, fusi, atau pembentukan anus dari tonjolan embrionik.
b.       Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan dubur, sehingga bayi lahir tanpa lubang anus.
c.       Gangguan organogenesis dalam kandungan penyebab atresia ani, karena ada kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu atau 3 bulan.
d.       Kelainan bawaan, anus umumnya tidak ada kelainan rektum, sfingter, dan otot dasar panggul. Namum demikian pada agenesis anus, sfingter internal mungkin tidak memadai. Menurut penelitian beberapa ahli masih jarang terjadi bahwa gen autosomal resesif yang menjadi penyebab atresia ani.
e.       Genetik dan abnormalitas kromosom
f.        Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia kehamilan.

2.4  Faktor Predisposisi
Atresia ani dapat terjadi disertai dengan beberapa kelainan kongenital saat lahir, seperti :
a.       Kelainan sistem pencernaan terjadi kegagalan perkembangan anomali pada gastrointestinal.
b.      Kelainan sistem perkemihan terjadi kegagalan pada genitourinari.

2.5  Patofisiologi
Kelainan ini terjadi karena kegagalan pembentukan septum urorektal secara komplit karena gangguan pertumbuhan, fusi atau pembentukan anus dari tonjolan embrionik, sehingga anus dan rektum berkembang dari embrionik bagian belakang. Ujung ekor dari bagian belakang berkembang  menjadi kloaka yang merupakan bakal genitourinari dan struktur anorektal. Terjadi stenosis anal karena adanya penyempitan pada kanal anorektal. Terjadi atresia anal karena tidak ada kelengkapan dan perkembangan struktur kolon antara 7-10 minggu dalam perkembangan fetal. Kegagalan migrasi dapat juga karena kegagalan dalam agenesis sakral dan abnormalitas pada uretra dan vagina. Tidak ada pembukaan usus besar yang keluar melalui anus sehingga menyebabkan fekal tidak dapat dikeluarkan sehingga intestinal mengalami obstruksi. Putusnya saluran pencernaan dari atas hingga daerah dubur, sehingga bayi baru lahir tanpa lubang anus.

2.6  Tanda Gejala (Ngastiyah, 2005)
Tanda dan gejala yang sering timbul, yaitu :
a.       Bayi muntah-muntah pada 24-48 jam setelah lahir dan tidak terdapat defekasi mekonium. Gejala ini terdapat pada penyumbatan yang lebih tinggi.
b.      Pada bayi wanita sering ditemukan fistula rektovaginal (dengan gejala bila bayi buang air besar feses keluar dari (vagina) dan jarang rektoperineal, tidak pernah rektourinarius.
c.       Sedang pada bayi laki-laki dapat terjadi fistula rektourinarius dan berakhir di kandung kemih atau uretra dan jarang rektoperineal.
d.      Mekonium tidak keluar dalm 24 jam pertama setelah kelahiran. (Suriadi,2001).
e.        Tidak dapat dilakukan pengukuran suhu rektal pada bayi.
f.       Mekonium keluar melalui sebuah fistula atau anus yang letaknya salah.
g.       Perut kembung 4-8 jam setelah  lahir.
h.      Bayi muntah-muntah pada umur 24-48 jam.
  1. Tidak ditemukan anus, kemungkinan ada fistula
  2. Bila ada fistula pada perineum(mekoneum +) kemungkinan letak rendah
  3. Bayi tidak dapat buang air besar sampai 24 jam setelah lahir, gangguan intestinal, pembesaran abdomen, pembuluh darah di kulir abdomen akan terlihat menonjol (Adele,1996)

2.7   Komplikasi
a.        Infeksi saluran kemih yang berkepanjangan.
b.      Obstruksi intestinal
c.       Kerusakan uretra akibat prosedur pembedahan.
Komplikasi jangka panjang :
a.       Eversi mukosa anal.
b.      Stenosis akibat kontraksi jaringan parut dari anastomosis.
c.       Impaksi dan konstipasi akibat terjadi dilatasi sigmoid.
d.      Masalah atau kelambatan yang berhubungan dengan toilet training.
e.       Inkontinensia akibat stenosis anal atau impaksi.
f.       Fistula kambuh karena tegangan di area pembedahan dan infeksi.(Betz, 2002)

2.8   Penatalaksanaan
1.      Penatalaksanaan dalam tindakan atresia ani yaitu :
a.       Pembuatan kolostomi
Kolostomi adalah sebuah lubang buatan yang dibuat oleh dokter ahli bedah pada dinding abdomen untuk mengeluarkan feses. Pembuatan lubang biasanya sementara atau permanen dari usus besar atau colon iliaka. Untuk anomali tinggi, dilakukan kolostomi beberapa hari setelah lahir. Kemudian dilanjutkan dengan operasi "abdominal pull-through"
b.       PSARP (Posterio Sagital Ano Rectal Plasty)
Bedah definitifnya, yaitu anoplasty dan umumnya ditunda 9 sampai 12 bulan. Penundaan ini dimaksudkan untuk memberi waktu pelvis untuk membesar dan pada otot-otot untuk berkembang. Tindakan ini juga memungkinkan bayi untuk menambah berat badannya dan bertambah baik status nutrisinya.
c.        Tutup kolostomi
Tindakan yang terakhir dari atresia ani. Biasanya beberapa hari setelah operasi, anak akan mulai BAB melalui anus. Pertama, BAB akan sering tetapi seminggu setelah operasi BAB berkurang frekuensinya dan agak padat.
d.      Dilakukan dilatasi setrap hari dengan kateter uretra, dilatasi hegar, atau speculum
e.       Melakukan operasi anapelasti perineum yang kemudian dilanjutkan dengan dilatasi pada anus yang baru pada kelainan tipe dua.
f.       Pada kelainan tipe tiga dilakukan pembedahan rekonstruktif melalui anoproktoplasti pada masa neonates.
g.      Melakukan pembedahan rekonstruktif ;
1.      Operasi abdominoperineum pada usia (1 tahun)
2.      Operasi anorektoplasti sagital posterior pada usia (8-2 bulan)
3.      Pendekatan sakrum setelah bayi berumur (6-9 bulan)
h.      Penanganan pasca operasi
1.      Memberikan antibiotic secara iv selama 3 hari
2.      Memberikan salep antibiotika selama 8-10 hari

2.       Pemeriksaan Penunjang
Untuk memperkuat diagnosis sering diperlukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut :
a.        Pemeriksaan radiologis
Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi intestinal.
b.       Sinar X terhadap abdomen
Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan untuk mengetahui jarak pemanjangan kantung rektum dari sfingternya.
c.        Ultrasound terhadap abdomen
Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam sistem pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh karena massa tumor.
d.       CT Scan
      Digunakan untuk menentukan lesi.
e.       Pyelografi intra vena
Digunakan untuk menilai pelviokalises dan ureter.
f.       Pemeriksaan fisik rektum
Kepatenan rektal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan selang atau jari.
g.       Rontgenogram abdomen dan pelvis
Juga bias digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang berhubungan dengan traktus urinarius.

3.1  Kesimpulan
Atresia anus artinya anus tidak ada atau tidak berada pada tempatnya.Atresia anus merupakan kelainan dalam perkembangan bayi saat masih dalam kandungan, penyebabnya tidak diketahui, tetapi diduga factor genetic sedikit berperanan.diagnosis dibuat segera setelah bayi dilahirkan (rutinitas/SOP, dimana tiap  bayi baru lahir diperiksa anusnya ada atau tidak,trsumbat atau tidak.
Namun demikian terjadi juga keadaan ini tidak terdeteksi, dan baru diketahui setelah bayi tidak bias BAB dan terlihat gejala sumbatan diusus. Untuk memastikan jenis atresia dan posisinya pastinya, dilakukan pemeriksaan ronsen plus zat kontras. MRI atau CT Scan dan juga bisa menentukan jenis dan ukuran atresia.
Tindakan pembedahan merupakan satu-satunya cara pengobatan atresia ani. Yaitu berupa membuat saluran darurat di dinding perut bayi (colostomy) untuk menyalurkan feses, beberapa bulan kemudian baru dipindahkan ke bagian anusnya.
  
DAFTAR PUSTAKA

Sudarti.2010. KELAINAN DAN PENYAKIT PADA BAYI DA ANAK.YOGYAKARTA : Nuha Medika
Muslihatun, Wafi Nur. 2010. ASUHAN NEONATUS, BAYI DAN BALITA.Yogyakarta : Fitramaya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar