Selasa, 07 Mei 2013

makalah hipotermi

Hipotermia

2.1 Definisi
Hipotermia adalah kondisi di mana tubuh kita mengalami penurunanan suhu inti (suhu organ dalam). Hipotermia bisa menyebabkan terjadinya pembengkakan di seluruubuh (Edema Generalisata), menghilangnya reflex tubuh (areflexia), koma, hingga menghilangnya reaksi pupil mata. Disebut hipotermia berat bila suhu tubuh < 320C. Untuk mengukur suhu tubuh pada hipotermia diperlukan termometer ukuran rendah (low reading termometer) sampai 250C. Di samping sebagai suatu gejala, hipotermia dapat merupakan awal penyakit yang berakhir dengan kematian
Bayi hipotermi adalah bayi dengan suhu badan di bawah normal. Suhu normal pada bayi neonatus adalah adalah 36,5-37,5 derajat Celsius (suhu ketiak). Hipotermi merupakan salah satu penyebab tersering dari kematian bayi baru lahir, terutama dengan berat badan kurang dari 2,5 Kg Gejala awal hipotermi apabila suhu kurang dari 36 derajat Celsius atau kedua kaki dan tangan teraba dingin.
Selain itu ada beberapa definisi mengenai hipotermia antara lain:
a.       Keadaan dimana seorang individu gagal mempertahankan suhu tubuh dalam batasan normal 36-37,5ºC.
b.      Keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami penurunan suhu tubuh terus-menerus dibawah 35, 5ºC per rektal karena peningkatan kerentanan terhadap faktor-faktor eksternal.
c.       Keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami penurunan suhu tubuh terus-menerus dibawah 35, 5ºC per rektal karena peningkatan kerentanan terhadap faktor-faktor eksternal.





Mekanisme terjadinya hipotermi
Penurunan suhu tubuh pada bayi terjadi melalui :
1.      Tidak segera diberi pakaian, tutup kepala, dan dibungkus,
2.      Bayi berat lahir rendah yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2,5 kg atau bayi dengaan lingkar lengan kurang dari 9,5 cm atau bayi dengan tanda-tanda otot lembek, kulit kerput.Bayi lahir sakit seperti asfiksia, infeksi sepsis dan sakit berat.
3.      Evaporasi (menguapnya cairan dari kulit bayi yang basah)adalah cairan atau air ketuban yang membasahi kulit bayi menguap. misalnya: Ketika bayi baru lahir tidak segera dibersihkan, lalu terlalu cepat dimandikan.
4.      Radiasi (memancarnya panas tubuh bayi ke lingkungan sekitar yang lebih dingin)adalah panas yang hilang dari obyek yang hangat (bayi) ke obyek yang dingin atau panas tubuh bayi memancar ke lingkungan sekitar  bayi yang lebih dingin misalnya: diletakkan pada ruangan yang dingin, tidak segera didekapkan pada ibunya, dipisahkan dari ibunya, tidak segera disusui ibunya.
5.       Konduksi (pindahnya panas tubuh apabila kulit bayi langsung kontak denganpermukaan yang lebih dingin)adalah pindahnya panas tubuh bayi karena kulit bayi langung kontak dengan permukaan yang lebih dingin misalnya: tidak segera diberi pakaian, tutup kepala, dan dibungkus.
6.      Konveksi yaitu hilangnya panas tubuh bayi karna aliran udara sekeliling bayi:misalnya bayi baru lahir diletakkan di dekat pintu,jendela terbuka.

Menurut (Yunanto, 2008:42)  penurunan suhu  tubuh dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Anamnesa
Pemeriksaan
Klasifikasi
a.    Bayi terpapar suhu lingkungan yang rendah waktu timbulnya kurang dari 2 hari
a.    Suhu tubuh 32˚ C – 36,4˚ C
b.    Gangguan napas
c.    Denyut jantung <100 kali permenit
d.    Malas minum
e.    letargi
Hipotermia sedang
a.    Bayi terpapar suhu lingkungan yang rendah waktu timbulnya kurang dari 2 jam
a.    Suhu tubuh < 32˚ C
b.    Tanda hipotermia sedang
c.    Kulit teraba keras
d.    Napas pelan dan dalam
Hipotermia berat

2.2  Faktor resiko
1.      Perawatan yang kurang tepat saat bayi lahir
2.      Bayi dipisahkan dari ibunya segera setelah bayi lahir
3.      BBRL dan Prematur
4.      Kurang terjaganya suhu badan bayi
5.      Bayi dengan hipoksia, asfiksia
6.      Kondisi neurologik seperti meningitis dan perdarahan cerebral
7.      Pengeringan yang tidak adekuat setelah kelahiran
8.      Eksposure suhu lingkungan yang dingin

2.3 Penyebab
      Berikut penyebab terjadinya penurunan suhu tubuh pada bayi :
1.      Luas permukaan tubuh pada bayi baru lahir (terutama jika berat badannya rendah), relatif lebih besar dibandingkan dengan berat badannya sehingga panas tubuhnya cepat hilang.
Pada cuaca dingin, suhu tubuhnya cenderung menurun.Panas tubuh juga bisa hilang melalui penguapan, yang bisa terjadi jika seorang bayi yang baru lahir dibanjiri oleh cairan ketuban.
2.      Jaringan lemak subkutan tipis.
3.      Perbandingan luas permukaan tubuh dengan berat badan besar.
4.      Cadangan glikogen dan brown fat sedikit.
5.      BBL (Bayi Baru Lahir) tidak mempunyai respon shivering (menggigil) pada reaksi kedinginan.
6.      Kurangnya pengetahuan perawat dalam pengelolaan bayi yang beresiko tinggi mengalami hipotermi.
7.      Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan sempurna
8.      Permukaan tubuh bayi relatif lebih luasTubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas.
9.      Bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dan pakainnya agar dia tidak kedinginan
10.  Keadaan yang menimbulkan kehilangan panas yang berlebihan, seperti lingkungan dingin, basah, atau bayi yang telanjang,cold linen, selama perjalanan dan beberapa keadaan seperti mandi, pengambilan sampel darah, pemberian infus, serta pembedahan. Juga peningkatan aliran udara dan penguapan.
11.  Ketidaksanggupan menahan panas, seperti pada permukaan tubuh yang relatif luas, kurang lemak, ketidaksanggupan mengurangi permukaan tubuh, yaitu dengan memfleksikan tubuh dan tonus otot yang lemah yang mengakibatkan hilangnya panas yang lebih besar padaBBLR.
12.  Kurangnya metabolisme untuk menghasilkan panas, seperti defisiensib ro wn fat, misalnya bayi preterm, kecil masa kelahiran, kerusakan sistem syaraf pusat sehubungan dengan anoksia, intra kranial hemorrhage, hipoksia, dan hipoglikemia
13.  Hipotermi dapat terjadi setiap saat apabila suhu disekelilingi bayi rendah dan upaya mempertahankan suhu tubuh tidak di terapkan secara tepat,terutama pada masa stabilisasi yaitu:6-12 jam pertama setelah lahir.

2.4 Etiologi
Perinatal ada;ah bayi yang baru mengalami proses kelahiran dan harus menyesuaikan diri dari kehidupan intera uterin ke kehidupan ekstra uterin selama 28 hari. Empat aspek transisi pada bayi baru lahir dimasa perinatal yang cepat berlangsung adalah sistem pernapasan, sirkulasi, dan kemampuan menghasilkan sumber glukosa. (Rukiyah dkk, 2010:2).
Penyebab terjadinya hipotermi pada BBL di masa perinatal yaitu:
1.      jaringan lemak subkutan tipis,
2.      perbandingan luas permukaan tubuh dengan berat badan besar,
3.      bayi baru lahir tidak mempunyai respon shivering (menggigil) pada reaksi kedinginan,
4.      asfiksia yang hebat,
5.      resusitasi yang ekstensif,
6.      lambat sewaktu mengeringkan bayi,
7.      distress pernapasan,
8.      sepsis,
9.      pada bayi prematur atau bayi kecilmemiliki cadangan glukosa yang sedikit.
Neonatus mudah sekali terkena hipotermi yang disebabkan oleh:
1.      Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan sempurna
2.      Permukaan tubuh bayi relatif lebih luas
3.      Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas
4.      Bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dan pakainnya agar dia tidak kedinginan
5.      Keadaan yang menimbulkan kehilangan panas yang berlebihan, seperti lingkungan dingin, basah, atau bayi yang telanjang,cold linen, selama perjalanan dan beberapa keadaan seperti mandi, pengambilan sampel darah, pemberian infus, serta pembedahan. Juga peningkatan aliran udara dan penguapan.
6.      Ketidaksanggupan menahan panas, seperti pada permukaan tubuh yang relatif luas, kurang lemak, ketidaksanggupan mengurangi permukaan tubuh, yaitu dengan memfleksikan tubuh dan tonus otot yang lemah yang mengakibatkan hilangnya panas yang lebih besar pada BBLR.
7.      Kurangnya metabolisme untuk menghasilkan panas, seperti defisiensi brown fat, misalnya bayi preterm, kecil masa kelahiran, kerusakan sistem syaraf pusat sehubungan dengan anoksia, intra kranial hemorrhage, hipoksia, dan hipoglikemia.

2.5 Tanda Gejala
*           Gejala hipotermi yang sering terjadi pada bayi yaitu ;
1.      Gejala awal hipotermia apabila suhu < 360C atau kedua kaki dan tangan teraba dingin.Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin, maka bayi sudah mengalami hipotermia sedang (suhu 320C - <360C).
2.      Sejalan dengan menurunnya suhu tubuh,bayi menjadi kurang aktif,tidak kuat menghisap asi,dan menangis lemah
3.      Timbulnya sklerema atau kulit mengeras berwarna kemerahan terutama dibagian punggung,tungkai dan tangan.
4.       Muka bayi berwarna merah terang
5.      Bayi tampak mengantuk
6.      Kulit bayi tampak pucat dan dingin serta bayi menjadi lemah, lesu ,menggigil
7.      Kaki dan tangan bayi teraba lebih dingin dibandingkan dengan bagian dada
8.      Ujung jari tangan dan kaki bayi tampak kebiruan
9.      Dalam keadaan berat, denyut jantung bayi menurun dan kulit tubuh bayi mengeras (sklerema)

Tanda-tanda klinis hipotermia:
1.       Hipotermia sedang:
a.       Kaki teraba dingin
b.      Kemampuan menghisap lemah
c.       Tangisan lemah
d.      Kulit berwarna tidak rata atau disebut kutis marmorata
2.      Hipotermia berat
a.       Sama dengan hipotermia sedang
b.      Pernafasan lambat tidak teratur
c.       Bunyi jantung lambat
d.      Akan timbul hipoglikemi dan asidosisi metabolic

3.      Stadium lanjut hipotermia
a.       Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang
b.      Bagian tubuh lainnya pucat
c.       Kulit mengeras, merah dan timbul edema terutama pada punggung, kaki dan tangan
d.      (sklerema)

Menurut tingkat keparahannya, Gejala Klinis hipotermia dibagi menjadi 3 ,
1.      Mild atau ringan (34-36°c)
a.       Sistem saraf pusat: amnesia, apati, terganggunya persepsi halusinasi
b.      Cardiovaskular: denyut nadi cepat lalu berangsur melambat, meningkat4nya tekanandarah,
c.       Penafasan: nafas cepat lalu berangsur melambat,
d.      Saraf dan otot: gemetar, menurunnya kemampuan koordinasi otot
2.      Moderate, sedang (30–34°C)
a.       Sistem saraf pusat: penurunan kesadaran secara berangsur, pelebaran pupil
b.      Cardiovaskular: penurunan denyut nadi secara berangsur
c.       Pernafasan: hilangnya reflex jalan nafas(seperti batuk, bersin)
d.      Saraf dan otot: menurunnya reflex, berkurangnya respon menggigil, mulai munculnya kaku tubuh akibat udara dingin
3.      Severe, parah (<30°C)
a.       Sistem saraf pusat: koma,menurunnya reflex mata(seperti mengdip
b.      Cardiovascular: penurunan tekanan darah secara berangsur, menghilangnya tekanan darah sistolik
c.       Pernafasan: menurunnya konsumsi oksigen
d.      Saraf dan otot: tidak adanya gerakan, menghilangnya reflex perifer

2.6 Penatalaksanaan
1.      Penstabilan suhu tubuh dengan menggunakan selimut hangat (tapi hanya pada bagian dada, untuk mencegah turunnya tekanan darah secara mendadak) atau menempatkan pasien di ruangan yang hangat. Berikan juga minuman hangat(kalau pasien dalam kondisi sadar).
2.      Radiant Warner adalah alat yang digunakan untuk bayi yang belum stabil atau untuk tindakan-tindakan.
3.      Servo controle (dengan menggunakan probe untuk kulit) atau non servo controle (dengan mengatur suhu yang dibutuhkan secara manual).
4.      Melakukan tujuh rantai hangat, yaitu menyiapkan tempat melahirkan yang hangat, kering, bersih, penerangan cukup.
5.      Mengeringkan tubuh bayi segera ssetelah lahir dengan handuk kering dan bersih
6.      Memberi ASI sedini mungkin dalam waktu 30 menit setelah melahirkan agar bayi memperoleh kalori.
7.      Mempertahankan kehangatan pada bayi.
8.      Memberi perawatan bayi baru lahir yang memada
9.      melatih semua orang yang terlibat dalam pertolongan persalinan / perawatan bayi baru lahir
10.  Menunda memandikan bayi baru lahir :
a.        pada bayi normal tunda memandikannya sampai 24 jam.
b.       pada bayi berat badan lahir rendah tunda memandikannya lebih lama lagi.
11.  Bayi dibungkus dengan selimut dan kepalanya ditutup dengan topi. Jika bayi harus dibiarkan telanjang untuk keperluan observasi maupun pengobatan, maka bayi ditempatkan dibawah cahaya penghangat.Untuk mencegah hipotermia, semua bayi yang baru lahir harus tetap berada dalam keadaan hangat.
12.  Di kamar bersalin, bayi segera dibersihkan untuk menghindari hilangnya panas tubuh akibat penguapan lalu dibungkus dengan selimut dan diberi penutup kepala.
13.  Melaksanakan metode kanguru, yaitu bayi baru lahir dipakaikan popok dan tutup kepala diletakkan di dada ibu agar tubuh bayi menjadi hangat karena terjadi kontak kulit langsung.Bila tubuh bayi masih teraba dingin bisa ditambahkan selimu.
14.  Pada bayi baru lahir mengenakan pakaian dan selimut yang disetrika atau dihangatkan diatas tungku.
15.  Menghangatkan bayi dengan lampu pijar 40 sampai 60 watt yang diletakkan pada jarak setengah meter diatas bayi.
16.   Terapi yang bisa diberikan untuk orang dengan kondisi hipotermia, yaitu jalan nafas harus tetap terjaga juga ketersediaan oksigen yang cukup.


















BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Ronaldo.2009.”Pertolongan Pertama untuk Bayi dan Anak “ (terjemahan). Jakarta (halaman 90-91)
Saifudin,Abdul Bari,George Adriaansz,Gulardi Hanifa Wiknjosastro,Djoko Waspodo.2009.”Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta (halaman372-374).

Warih BP, Abubakar M. 1992. Fisiologi pada Neonatus. dalam : Kumpulan makalah Konas III IDSAI. Surabaya.
Survival Stresses – Hipothermia penebar maut – Alap2 S-00166 TMS-7 Yogya – 1988




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar